Blog orang binun

November 22, 2007

McClaren ? McLaren ? DASAR … ! (part 2)

Filed under: Cita-cita

 

Sekarang yang satu lagi.. (kLo sempet, baca postingannya yg sebelumnya dulu yap! Heheh)

Steve McClaren… katanya pelatih berprestasi,, coba liat prestasi dia dulu di MU waktu jadi asisten Sir Alex Ferguson… coba liat prestasi dia waktu membawa Middlesbrough sampe ke Final piala UEFA…

(Klo dipikir-pikir utk prestasi pertama, dia Cuma asisten. Pasti Fergie yg jago, apalagi kLo lo inget nasib Carlos Quieroz (lagi2 ejaannya ntah gmn) -asisten Fergie yg lain, waktu sempet jadi manajer beneran di Madrid.. utk prestasi kedua, Inget kan.. di Final Boro dibantai Sevilla.)

 

Sepertinya McClaren ditunjuk karena publik Inggris pengen punya pelatih lokal lagi untuk timnas mereka … gw yakin kLo Sven-Goran Eriksson ga segitu cautiousnya di Germany 2006, fans Inggris bakal ttp percaya ama dia. Faktanya, Inggris emang susah dikalahin, dan defensenya bagus selama dia yang ngelatih. Korea-Japan 2002 tersingkir di perempat final karena gol free-kick Ronaldinho yang “ngeledek” David Seaman itu; Euro 2004 dan Germany 2006 kalah dari Porutgal, lagi2 di perempat final dan dua-duanya lewat adu penalti (kLo ga salah). Tebak siapa pelatih Brazil di 2002 dan pelatih Portugal di 2004 dan 2006 ? Luiz Felipe Scolari. Eriksson pasti alergi ama dia.

Balik ke masalah McClaren sebagai pelatih lokal, asli Inggris,, masalahnya siapa lagi pelatih lokal berprestasi ? yahh jelas kLo dibandingin ama Bryan Robson, Steve Bruce, Struart Pearce, Alan Curbishley, malah Sam Allardyce sekalipun… McClaren pelatih lokal yang paling jelas prestasinya. Inggris ga punya pilihan lain waktu itu.

 

Tapi coba liat sekarang ? Inggris ga lolos Euro 2008. Di pertandingan terakhir lawan Kroasia yang udah lolos duluan, Inggris kalah 2-3 di New Wembley. Malu2in abiss..

Lagi2 gw mau protes, Makan tuhh National Pride… makan tuhh Local Content!

Sepakbola di level ini adalah olahraga prestasi, walaupun embel2nya “Tim Nasional” dan kLo yang lokal prestasinya ga bagus2 amat… pake yang asing2 ga ada salahnya.

 

BTW-FYI (hYyah),, bukan2nya kenapa2.. Gw sewot Inggris ga lolos. Gw tau ko ini ga akan ngaruh apa2 ke idup gw. Cuma bentuk kekecewaan fans aja. Timnas yang gw dukung, dengan bawa2 emosi kLo nonton pertandingannya ya Cuma dua.. satu Inggris, satunya lagi ya pasti Indonesia ( Kalah ama Suriah 7-0… hiks. Ini terlalu banyak masalah, males nulisnya).

 

Kembali ke LapTop… (mulai basi ga sih?)

Gw ga ngedukung kLo gara “kemaluan besar ini”(eits bahasanya ga pas..) nantinya EPL memberlakukan pembatasan pemain asing. Jelas2 Inggris ga kekurangan pemain berkualitas,

yah kecuali Kiper… (Robbo dodol… Carson ama Green kurang pengalaman)

ama striker tajam… (Rooney mandul di Timnas, Owen ringkih, Crouch aneh)

ama sayap kiri.. (Stuart Downing jadi sayap ko “lurus2 aja”, Joe Cole jg gitu2 doang)

ehh.. apa bener banyak kekurangan y? Heheh

 

KaLo mau dibatasin, EPL harusnya ngebatasin pelatih Asing! Hehe agak2 ga mungkin. Tp coba liat..

Italia udah memproduksi Ancelotti, Mancini, dan Donadoni,

Dari Belanda ada Gullit, van Basten, Rijkaard, dan Koeman,

Jerman punya Rudi Voeller, Klinsmann, ama Schuster..

Itu semuanya mantan pemain di akhir2 ’80-an dan awal ’90-an yang sekarang udah jadi pelatih berprestasi, pernah ngelatih timnas, dan atau ngelatih klub2 besar. Daftar itu masih bisa ditambah dengan manajer2 muda lain yang backgroundnya bukan pemain terkenal seperti Cesare Prandelli, Luciano Spaletti, Joachim Loew, Jose Mourinho, Felix Magath, dst…

Inggris ? Telat. Manajer2 mudanya masih nukangin klub2 gurem dan papan tengah yang prestasinya “tempo tempo”… tempo2 bagus, mengejutkan.. tempo2 jelek, keluar aslinya. Orang2nya y spt yg udah gw sebut di awal tadi…

 

Sekarang, walaupun vonis buat Steve McClaren belum jelas, gw yakin dia bakal dicopot. Sebagai kata perpisahan di konpers terakhirnya(semoga!) sebagai pelatih timnas Inggris dia bilang,

“ I’m not stepping down. Ultimately I take responsibility and I accept that. It was my job to get us qualified and I failed to do that."

"I don’t want to discuss my future at the present moment. I am trying to get over that result."

"We feel exactly the same (as the fans), believe you me, we know how they are feeling. You should see the dressing room, they are so disappointed to have let so many people down."

 

Hhh masih ga mau mundur juga!?  emoticon

McClaren ? McClaren ? DASAR … ! (part 1)

Filed under: Cita-cita

 

McClaren dan McLaren membawa hal buruk bagi olahraga Inggris di tahun 2007 ini.

Sebelum ngomongin tentang McClaren yg jadi sasaran utama dari tulisan ini, mari ngomongin McLaren yang jadi “sasaran antara”. Team F1 McLaren (ato gmn lah ejaannya yg penting bunyinya mirip2 aja..) Mercedes.

Mobil-mobil perak… mesin Mercedes… 1pembalap yang udah dua kali juara dunia &1rookie yg kelewat bagus… dan entah berapa orang yang terlibat kegiatan “intelijen balap” dgn nyolong2 rancangan Ferrari.

 

Aneh kan?

 

Modal mobil dan pembalap udah lebih dari cukup, masih juga ngerusak citra Inggris yang terkenal dengan sikap a la Gentleman nya dengan mata-mata dan nyolong data teknis tim orang lain. Ga mikir2 lagi, yang digituin malah tim F1 dari negara asal Mafia…

Buaya kok mau coba-coba “di-kadalin” !?

 

OK, akhirnya Kalah di Persidangan. Siapa tau masih bisa berkoar-koar spt Juventus waktu kena Calciopoli, “Kami tetap juara yang sebenarnya!”. Tapi di trek McLaren kalah lagi. Dua seri terakhir salah satu dari pembalapnya malah kalah abis-abisan. Alonso yang udah juara dunia dua kali, kurang disayang. Bos-bos McLaren (dan rasanya juga pers Inggris) lebih sayang ama Lewis Hamilton, rookie yang sampe beberapa lap sebelum terakhir masih mimpin klasemen pembalap. Katanya dia disayang karena McLaren tetep tim Inggris (mesinnya aja dr Jerman.. plis deh), dan seluruh Britania Raya udah ngebet pengen punya juara dunia F1 lagi setelah Damon Hill terakhir juara sekitar satu dekade lalu. Dan akhirnya, semua fans McLaren kecewa… Juaranya malah seorang pembalap yg katanya cool kLo lagi balap, tp sehari-hari hedon dan jago party.. hhh

 

Gw mau protes! Coba kalo dari awal Alonso yang diperhatiin… ato minimal ga usah punya anak emas gitu lah.. Alonso 2taun terakhir ini udah sukses ngalahin Si Jago Party itu dan Si Mbahnya pembalap F1 (u know who..). Makan tuhh national pride…!

 

  *McLaren akhirnya balik lagi ke pengadilan, ngeliat ada keputusan aneh gitu katanya di Seri

    balap k berapa gitu,, yg kLo diluluskan, bisa2 Hamilton jadi juara lewat pengadilan. Untung

    ditolak.

 

Bersatu dulu deh..

Filed under: Mikir yok!

Akhir-akhir ini selain KTT ASEAN yang baru aja nandatanganin ASEAN Charter, ada lagi satu perundingan pertemuan atau per-apaan lah yang lagi hot bwt peminat HI (gw peminat bukan y? hmm), Perundingan Israel - Palestina yang seperti biasa "dibikinin" ama AS. Dan tempatnya kali ini bukan di Camp David lagi, tapi di Annapolis, Maryland. Perundingan ini katanya banyak masalah sih di tahap2 pre-negosiasi dan penetapan agenda ini itu. Tapi yang mau gw angkat di sini bukan itu, gw mau tekankan perundingan macem apa pun… berapa kali pun.. rasanya kurang berguna kalo Palestinanya sendiri belum bersatu. Kalo diapa-apain ama Israel memang wajar banget ngelawan, ngebales… Tapi inget ga pelajaran sejarah dari SD dulu, kenapa kita bisa dijajah ratusan tahun? dua sebab selalu mengemuka, bodoh dan ga bersatu. Gw percaya perjuangan untuk memerdekakan Palestina harus berkonsentrasi pada upaya mempersatukan masyarakat sana, bukan melulu masalah "LAWAN-LAWAN!!", "YAHUDI LAKNAT", "LENYAPKAN ISRAEL", "AMERIKA ANTEK YAHUDI"… dan macem2 itu yang ngabisin energi tanpa hasil yang konkret.

Gw pernah disuruh buat UTS yang meminta ngasih usul gimana membangun persatuan Palestina, dan ini yang akan gw tulis (copy-paste tepatnya!hehe).. tapi perlu diingat, usulan agak optimis ini dibuat tahun kemaren pas persatuan ini masih hangat2nya, belum pecah belah seperti sekarang.

Yah, apa pun… ditanggapi lah…

"Persatuan Palestina menjadi isu yang sentral dalam usaha mereka mencapai kemerdekaan dari Zionis Israel. Sebelumnya, ketika Yasser Arafat masih hidup, ia menjadi simbol bagi perjuangan bangsa Palestina yang bersatu. Keberadaan Arafat, dan organisasi-organisasi dimana ia menjadi pelopornya (Fattah, Palestine Liberation Organization (PLO)) membuat perjuangan bangsa Palestina seakan berada di bawah satu komando. Para pemimpin negara lain, termasuk pemimpin Israel akan berpaling kepadanya jika ingin berunding mengenai masalah Israel-Palestina. Bahkan sejak munculnya Hamas, keberadaan Arafat tetap tidak diganggu. Dua pemimpin awal Hamas, Syekh Ahmad Yassin dan Rantisi tidak mengganggu Arafat, keberadaan PLO dan Fattah secara politis.

            Walaupun, sejak berdirinya Hamas, Arafat terperangkap dalam dilema baru. Hamas bergerak lewat jalur-jalur yang radikal dalam perjuangan secara fisiknya Kekerasan dan teror yang dilakukan mereka, berada di luar kontrol Arafat. Ia pun mendapatkan tekanan untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan Hamas setiap kali ia masuk perundingan perdamaian. Tetapi sulit bagi Arafat melakukan itu, karena Hamas lewat jaringan internasionalnya, Ichwanul Muslimin, mampu memberikan pelayanan kepada rakyat palestina. Pelayanan itu terutama di bidang kesehatan, dengan membuka klinik-klinik, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh Otoritas Palestina (OP).

            Masalah kemudian semakin pelik ketika Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri Israel. Orang Palestina mengenal Sharon sebagai pemimpin militer yang kurang manusiawi dalam peperangan, dan perlakuannya terhadap orang Palestina. Di masa kekuasaannya pemukiman Yahudi terus diperluas, dan militer Israel semakin sering berada di Gaza dan Tepi Barat, melakukan berbagai tindak kekerasan kepada orang Palestina. Sebagaimana pola umum antara Israel-Palestina, tindakan keras yang diambil oleh satu pihak akan mendapat respon yang tidak kalah kerasnya dari pihak lain. Dan pihak yang dapat membalas kerasnya tindakan Israel adalah Hamas.

            Popularitas Hamas di mata rakyat Palestina pun semakin meningkat, mereka mempersepsikan organisasi ini sebagai simbol perlawanan yang lebih berani, karena Fattah dan OP melunak sikapnya terhadap Israel. Momentum bagi Hamas kemudian datang ketika Yasser Arafat meninggal, dan tahun ini diadakan pemilu di Palestina. Hamas memenangi Pemilu, dan pos Perdana Menteri (PM) kini mereka duduki.

            Di sini wacana persatuan Palestina mulai timbul. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya ketika Rais (Presiden) OP dijabat oleh Mahmoud Abbas sebagai penerus Arafat dari PLO dan Fattah. Sementara PM dijabat oleh Ismail Haniya dari Hamas. Presiden Palestina lebih banyak melakukan fungsi keluar sebagai kepala negara yang berunding dengan pihak-pihak asing menyangkut masalah perdamaian. Hasil dari perundingan itu di dalam negeri harusnya diimplementasikan oleh PM.

            Abbas dan Fattah mempunyai pendekatan yang lebih akomodatif, dan damai dalam berdialog dengan Israel. Di dalam negeri yang berkuasa adalah Hamas yang walaupun juga menghendaki perdamaian, sikapnya lebih radikal dan keras terhadap Israel. Dengan perbedaan demikian, tentu akan ada gap dan berbagai ketidaksetujuan ketika apa hasil perundingan di luar negeri, harus diimplementasikan di dalam negeri. Sisi positifnya, baik pemimpin Fattah, PLO, maupun Hamas menjadi bahwa sepakat mereka perlu merumuskan suatu persatuan Palestina demi mencapai kemerdekaannya.

            Bagi saya persatuan Palestina dapat memakai cara nation-building dan pemerintahan dengan konsep Consociationalism (diperkenalkan antara lain oleh Arend Lijphart dalam  Democracy in Plural Societies : A Comparative Explanation dan G. Bingham Powell Jr. dalam Contemporary Democracies : Participation, Stability, and Violence). Konsep ini digunakan untuk mengintegrasi populasi yang memiliki berbagai perbedaan, dan melakukan pemerintahan dalam politik yang begitu tersegmentasi (baik secara etnis, agama, ras, bahasa, atau ideologi politik). Konsep politik mengutamakan mayoritas model Anglo-Saxon dimana kelompok mayoritas akan mengambil semuanya tentu akan menjadi kontra-produktif bagi bangsa yang tersegmentasi.

            Kunci dari konsep ini adalah antimajoritarian, yang sangat berbeda dengan konsep organisasi politik ala Anglo-Saxon. Konsep ini akan mengakui hak-hak kolektif dari setiap kelompok  minoritas maupun mayoritas. Hak-hak ini menyangkut hubungan antar-kelompok maupun hubungan kelompol dengan masing-masing anggotanya.

            Mengadopsi konsep Consociationalism ini akan menyebabkan beban ekstra di kelompok mayoritas. Mayoritas tidak boleh memaksakan untuk mengatur semuanya, dan menjalankan negara sebagaimana yang dia inginkan. Karena usaha yang demikian akan menghadapi tantangan dari minoritas. Keinginan dan kepentingan dari mayoritas harus dapat dikompromikan dengan milik minoritas, begitu juga sebaliknya. Semua ini dilakukan demi kepentingan bersatunya bangsa. Dalam konteks Palestina, Hamas harus mampu mengakomodir keinginan kelompok-kelompok lain, karena mereka walaupun menang pemilu, bukanlah mayoritas tunggal di Palestina. Dan mereka juga sebaiknya sadar bahwa harapan dan kepercayaan terbesar rakyat Palestina untuk menciptakan Palestina yang merdeka dan bersatu ada di tangan mereka. Kearifan para pemimpin Hamas sebelumnya ketika dulu tidak mengusik kepemimpinan Arafat sebaiknya diteruskan oleh Haniya dan Khaled Meshal, sekali lagi demi kepentingan bersatunya Palestina.

            Sistem consociational mencoba menarik semua kelompok untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan lewat representasi di tingkat elit. Dari sisi ini, sistem Palestina sekarang memiliki keuntungan dengan Presiden dan PM berasal dari kelompok yang berbeda. Yang kemudian perlu dibangun adalah bagaimana Presiden Abbas dapat berkonsultasi dulu dengan kelompok Hamas sebelum melakukan berbagai perundingan dengan pihak luar, sebaliknya Haniya juga perlu memperhatikan suara dari kelompok selain hamas, karena bangsa Palestina yang dipimpinnya bukan hanya orang-orang Hamas saja. Para birokrat dan politisi ini harus mengembangkan cara kerja yang menjamin kebijakan-kebijakan telah dibuat dengan memperhatikan kepentingan berbagai pihak.

            Ada beberapa kondisi yang dapat membantu berjalannya cara consociationalism ini dengan baik, dan bangsa Palestina sudah memiliki sebagian besarnya. Pertama adalah ketaatan dan kepercayaan kelompok-kelompok yang ada pada pemimpinnya. Hal ini sudah dimiliki Palestina, dengan tradisi Arab dan ajaran Islam yang memang mengajarkan demikian. Kesulitan mungkin terjadi ketika sayap poltik Fattah tidak memiliki kontrol terhadap sayap militernya (Brigade Al-Aqsa), begitu juga Hamas dengan Brigade Izz-al-din. Solusi bagi masalah ini dapat dimulai dengan memperbaiki hubungan antara para pemimpin politik dengan pemimpin sayap militer, jika sudah terjalin maka para anggotanya tinggal mengikuti saja. Hubungan yang baik ini akan dapat memperkuat posisi palestina dalam negosiasi perdamaian. Para pemimpin politik tidak lagi menjadi sasaran tekanan pihak asing ketika proses perdamaian diganggu oleh kekerasan dan teror yang tetap dilakukan oleh sayap-sayap militer, karena sebelum negosiasi perdamaian sayap militer dan politik telah memiliki sikap yang sama.

            Kondisi lainnya adalah tidak terlalu jauhnya perbedaan antara jumlah mayoritas-minoritas dan kecilnya jumlah populasi. Keduanya dimiliki Palestina. Dengan jumlah populasi yang kecil, para elit dari tiap kelompok sebenarnya memiliki peluang untuk berbagi kesamaan nilai karena mereka dilahirkan dan berbagi pengalaman masa lalu yang kurang lebih sama. Kondisi terakhir adalah adanya tradisi politik yang akomodatif, hal ini sudah sedikit dimulai Arafat dalam masa pemerintahannya, ketika ia menolak tekanan internasional untuk menghentikan Hamas. Dan kini sebaiknya para elit Palestina meneruskan tradisi ini dengan lebih konkret. Toh, mereka memiliki kesamaan cita-cita yaitu Palestina yang bersatu dan merdeka."

 

November 8, 2007

Dah coba belum?

Filed under: Mikir yok!

Lagi kesusahan cari data buat ini itu…?

makalah… review… skripsi…

Dan yang kepikir di otak lo adalah kapan ya sempet ke CSIS ? Freedom Institute? ato lain2…

Gak usah! cukup ke kampus aja (kampus gw&tman2 maksudnya..) di kampus gw ada shortcut mengagumkan. Mulai semester ini (yahh setau gw sih..), selama diakses lewat kompie2 yang ada di kampus, lo bisa ng-download berbagai article dari berbagai jurnal. Lewat Journal Storage (JStor) yang melegenda itu.. hoho.

Gw jadi promosi, karena abis mengalami langsung.

Jadi kLo lagi di kampus dan lagi binun, klik aja di sini

Semoga membantu… ayo… ayo… skripsi skripsi.  (.krik.) 

November 3, 2007

sebab musabab

Filed under: Ceritaku (ga pntg)

Kenapa gw ikut2 (gw ngaku ko, ikut2an) nge-blog? Sebenarnya suka timbul pikiran pengen nulis ini itu, tapi suka males menuangkan. Kini udah ada tempat "menuangnya" jadi gw bertekad utk tidak malas nulis lagi! hehe

Kenapa di blogsome? abis liat2 k blog orang2, nemuin bahwa jarang yang pake domain ini, jadi gw gunakan. ga ada alasan lain, biar beda aja. hehe

Jadi.. doakan gw beneran ga malas lagi (latihan) nulisnya!

sampe ktemu di posting-an berikutnya yg gw duga akan berisi tentang reunian sma ato TKHI yg keduanya akan gw hadiri besok. hohoho 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer